MAKALAH
INDIVIDU
NAIBUL
FAIL
DISUSUN
GUNA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH BAHASA ARAB II
DOSEN
PENGAMPU : Isro,M.ag

Disusun Oleh:
DWI
HIDAYANTI (40213059)
PGSD2/2
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
STKIP ISLAM BUMIAYU
2014/2015
KATA PENGANTAR
Alhamdullilah ucapan puji syukur
tiada hentinya selalu saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan
rahmat, taufik, serta hidayahnya yang telah diberikan kepada kita, sehubungan
dengan tertulisnya makalah ini saya sebagai penulis mengucapkan banyak-banyak
terima kasih.
Untuk memudahkan pada pembaca untuk
mempelajari ilmu nahwu para pembaca harus mempelajari dasar ilmu nahwu dan ilmu
nahwu itu sangat penting untuk dipelajari karena mempelajari dasar ilmu nahwu
kita bias mengerti dan memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits untuk itu penulis akan
menerangkan bab yang paling penting di dalam ilmu nahwu yaitu Naibul Fail
karena dengan memahami salah satu bab itu memang sangat penting dan di dalam
penulis akan menerangkan beberapa pengertian - pengrtian naibul fail dan
lain-lain agar dapat memudahkan pada para pembaca untuk mempelajari dan
memahami Naibul Fail dengan baik.
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Di
dalam Bahasa Arab mempelajari Ilmu Nahwu sangatlah penting karena dari situlah
bisa mempelajari bahasa arab dengan mudah. Selain itu, mempelajari Ilmu Nahwu
sangat penting untuk memahami Al-Qur’an, artinya ; karena menurut kaidah hukum
Islam, mengerti Ilmu Nahwu bagi mereka yang ingin memahami Al-Qur’an hukumnya
fardlu ‘ain.
Dan
sangat dianjurkan bagi manusia untuk menjaga lisannya dari kesalahan dan biasa
faham artinya Al-Qur’an dan Hadits maka oleh karena itulah Ilmu Nahwu harus
dipelajari dan difahami lebih didahulu dibanding ilmu yang lain karena tanpa
Ilmu Nahwu tidak akan pernah dapat dipahami.
B. Rumusan Masalah
- Apa
pengertian Naibul Fa’il ?
- Hukum-hukum
naibul Fa’il ?
- Macam-macam
Naibul Fa’il ?
C. Tujuan
- Memberikan
pemahaman yang mendalam tentang Ilmu Nahwu
- Memberi
pengetahuan dan wawasan tentang Ilmu Nahwu
- Mengetahui
apa itu Naibul Fail
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian Naibul
Fail
Na’ib,
artinya pengganti Fa’il artinya pelaku. Jadi Na’ibul Fa’il artinya pengganti
pelaku.
Yang
di maksud di sini , bahwa Na-ibul Fa’il ialah isim yang marfu’ yang di dahului
oleh Fi’il majhul atau syibhul majhul dan menempati tempat fa’il setelah fa’il
itu di buang.
Contoh
:
- Anjing
itu sudah dipukul =
الْكَلْبُ ضُرِبَ .١
- Anjing
sedang/ akan dipukul =
الْكَلْبُ يُضْرَبُ .٢
Kata-kata
Al kalbu pada contoh ( 1 & 2 ) menjadi na’ibul fa’l Marfu’, tanda rafa’nya,
dlomah. Sedang kata-kata dluriba dan yudlrabu adalah fi’il majhul yang kita
maksudkan itu.
·
Syibhu
Majhul
Syibhu,
artinya serupa, majhul artinya pasif. Jadi syibhul majhul artinya menyerupai
kata kerja pasif. Yang dimaksudkan / termasuk syibhul majhul ada dua yaitu :
Isim maf’ul dan isim yang bersambung dengan Ya’ nisbah ( yang menunjukkan arti,
turunan, atau bangsa ). Keduanya mempunyai Na-ibul Fa’il seperti fi’il majhul.
Contoh :
- Dia
terpuji akhlaqnya = خُلُقُهُ مَحْمُودْ
هُوَ.١
- Dia
(pr) terpuji akhlaqnya =
خُلُقُهَا مَحُمُوْدَةُ هِيَ.٢
- Anak
itu turunan Arab Ayahnya = اَبُوْهُ
عَرَبِيُّ اَلْوَلَدُ.٣
- Dia
turunan Indonesia ibunya = اُمُّهُ
نِيْشِيُّ اِنْدُوْ هُوَ.٤
Kata-kata
” ’Mahmudun dan Mahmudah”, adalah isim maf’ul ( syibhul majhul ). Kata
’’khuluquhu’’, menjadi na-ibul fa’ilnya.
Dan
kata ’’ ’Arabiyyun dan Indonesiyyun”, adalah isim yang menunjukkan arti turunan
( isim mansub ); Dan kata-kata ’’a bu dan ummu, menjadi na-ibul fa’ilnya.
-
Kata-kata
yang dapat menjadi Na-ibul fa’il
Ada
empat macam yang menjadi na-ibul fa’il yaitu :
1
. Maf’ul bih. Contoh : Anjing dipikul = كَلْبُ ضُرِبَ .١
2
. Jar marjur. Contoh : Dia digembirakan = بِهِ
فُرِحَ .٢
3
. Zoraf. Contoh : Dijalani sehari penuh
= كَامِلُ
يَوْمُ سِيْرَ .٣
4
. Mashdar. Contoh : Dimandikan di sungai =
النَّهْرِ
غُسْلُ فِ يُغْتَسَلُ .٤
Kata-kata
’’alkalbu, pada contoh (1), menjadi maf’ul bih dalam kalimay aktif, dan
manshub, setelah dimajhulkan, maka menjadi Na-ibul fa’il dan marfu.’
Kata
’’bihi’’, isim majrur, menjadi na-ibul fa’il dari furiha. Kata ’’Yawmun’’,
zoraf, menjadi na-ibul Fa’il dari Musyiya. Kata ’’ightisa-lun’’, adalah
mashdar, menjadi na-ibul fa’il dari Ughtusila.
Sebenarnya,
setiap fi’il lazim ( intransitif ) seperti: Jalan Gembira dan mandi” itu, tidak
bias di majhulkan ; tetapi boleh dimajhulkan, bila na-ibul fa’ilnya terdiri
dari Jar marjur atau Zhoraf atau mashdarnya sendiri. Syaratnya, untuk zoraf
dan mashdar itu, harus terdiri dari
zoraf mutashorrif ( bukan yang mabni ), yang mahdud ( yang tertentu masanya )
seperti, sebulan, sejam, sehari, dan lain-lain. Tidak boleh zoraf yang mubham (
yang tidak jelas batasnya ) seperti waktu, sebelum, sesudah, dan lain-lain.
Begitu
juga untuk mashdar, harus terdiri dari mashdar yang Mutashorrif ( bukan mashdar
jamid/ jumud ) seperti Subhana ( maha suci ) karena mashdar semacam itu tetap
menjadi maf’ul Muthlaq di mana pun letaknya. (pembahasan keduanya, lihat pada
jilid II bagian zorof dan maf’ul muthlaq ).
·
Fi’il
Madli Majhul dan Na-ibul Fa’ilnya
Di
atas telah dijelaskan, bahwa cara membuat fi’il majhul didlammahkan huruf
pertama dan dikasrahkan huruf kedua sebelum akhir. Contoh :
Artinya
setelah dimajhukan !
majhul(pasif) ! ma’lum(aktif)
1.
Pisang dimakan ا
لْمَوْزُ اُكِلَ اْلمَوْزَ اَكَلْتُ
.١
2. Stip diambil اْلمِمْحَاةُتِ اُخِذَ الْمِمْحَاةَ نَا اَخَذْ
.٢
3. Dikatakan padanya لَهُ
قِيْلَ الَهُ قَالُوْ .٣
4. Jagung dijual الذُّرَّةُ بِيْعَتِ االذُّرَّةَ بَاعُوْ .٤
5. Musuh diperangi الْعَدُوُّ
قُوْتِلَ الْعَدُوَّ
قَاتَلْنَا .٥
6. Diperselisihkan tentang anjing الْكِلْبِ فيِ اُخْتُلِفَ الْعُلَمَاءُ اِخْتَلَفَ
.٦
الْكَلْبِ فيِ
·
F’il
mudlore’ majhul dan na-ibul fa’ilnya
Cara
memajhulkan fi’il mudlo-re’ ialah didlammahkan huruf pertama dan difat-hahkan
huruf kedua sebelum akhir. ( lihat uraian kami tentang : Fa’il ma’lum dan
majhul ). Contoh :
Artinya
setelah dimajhulkan ! majhul (
pasif ) !
ma’lum ( aktif )
1. Pisang
dimakan الْمَوْزُ يُؤْ كَلُ الْمَوْزَ كُلُوْنَ يَاْ
هُمْ .١
2. Tas
diambil الْمِحْفَظَةُ تُؤْ خَذُ الْمِحْفَظًةُ نَاْخَذُ
نَحْنُ .٢
3. Ikan
dijual السَّمَكُ يُبَاعُ السَّمَكَ تَبِيْعُ
هِيَ .٣
4. Kopi
diminum الْقَهْوَةُ
تُشْرَبُ الْقَهْوَةَ
يَشْرَبُ اَبِىْ .٤
5. Kopi
diexsport الْبُنُّ يُسْتَخْرَجُ الْبُنَّ
نَسْتَخْرِجُ تَحْنُ .٥
6. Beras
diimport يُسْتَوْرَدُالْاَرُزُّ اْلَارُزّ نَسْتَوْردُ نَحْنُ .٦
7. Dua
anak dipanggil الْوَلَدَانِ
عَى يُدْ عُوْاالْوَلَدَيْنِ
تَدْ اُمِّىْ .٧
8. Orang-orang
kafir الْكَافِرُوْنَ
يُقَاتِلُ الْكَافِرُيْنَ
تِلُ نُقَا.٨
diperangi
- Hukum-hukum
Na-ibul Fa’il
1. Harus
rafa’ contoh = الدَّرْسُ
يُكْتَبُ / كُتِبَ
2. Na-ibul
fa’il harus ada, artinya di mana ada fi’il majhul maka harus ada na-ibul
fa’ilnya.
3. Na-ibul
Fa’il harus terletak sesudah fi’il. Berarti, bila didahului oleh isim, Na-ibul
Fail’nya terdiri dari dlomir.
Contoh
:
a. Ahmad
sudah di nasihati =
اَحْمَدُ
وُعِظُ .١
b. Aisyah sudah dinasihati = عَاءِشَةُ وُعِظَتْ .٢
c. Anak-anak
itu akan di pukul = اْلاَوْلَادُ يُضْرَبُ .٣
d. Orang-orang
Islam di ajak = الْمُسْلِمُوْنَ
يُدْعَى .٤
Pada
contoh ( a & b) na-ibul Fa’ilnya terdiri dari dlomir mustatir ditaqdirkan
Hua dan Hia, kembali kepada Ahmad dan Fathimah. Pada contoh ( c & d )
na-ibul fa’ilnya, terdiri dari waw jamak yang bersambung di belakang fi’il itu.
4. Fi’il
harus tetap dalam bentuk Mufrad ( tunggal ) walaupun Naibul Fa’ilnya terdiri
dari mutsanna ( dua atau jamak ).
Contoh
:
a. Kedua
anak itu dijumpai dijalan = لطَّرِيْقِ
ا فِى نِ لَدَا لْوَ ا لُقِىَ . ا
b. Kedua
akan dijumpai = لَدَانِ الْوَ يُلْقَى . ب
c. Orang-orang
Islam telah dipanggil = نَ
اْلمُسْلِمُوْ عِىَ دُ . ج
d. Orang-orang
Islam akan dipanggil = نَ
اْلمُسْلِمُوْ يُدْعَى . د
5. Harus
dita’nitskan fi’ilnya, bila Na-ibul fa’ilnya Mu’annats ( perempuan ). Contoh :
a. Sapi
sudah disembahkan = الْبَقَرَةُبِحَتِ ذُ . ا
b. Sapi
akan disembelih = الْبَقَرَةُ
بَحُ تُذْ . ب
c. Muslimat-muslimat
dinasihati =
الْمُسْلِمَاتُوُعِظَتِ
. ج
d. Muslimat-muslimat
sedang dinasihati = لْمُسْلِمَات
ا تُوْعَظُ .د
6. Boleh
dibuang Fi’ilnya dengan tetap fa’ilnya Na-ibul fa’ilnya. Seperti pada jawaban
kalimat. Contoh :
Apa
yang dipukuli ? Anjing = اَلْكَلْبُ
- ؟ مَايُظْرَبُ
Siapa
yang diajak ? Muhammad = مُحَمَّدُ
- ؟ مَتْ يُدْ عَى
Kata-kata
Al kalbu dan Muhammadaun, adalah na-ibul fa’il dari fi’il majhul yang dibuang.
Taqdinya / seharusnya, sebab :
a. Anjing
dipukul = الْكَلْبُ
يُظْرَبُ .١
b. Muhammad
diajak = مُحَمَدُ
عَى يُدْ .ب
Tegasnya
hukum-hukum Na-ibul fa’il pada prinsipnya sama dengan hukum-hukum Fa’il.
TEMPAT-TEMPAT
HARUS DITA’NITSKAN FI’IL
1. Bila
na-ibul fa’ilnya Muannats, bersambung dengan Fi’ilnya.
Contoh
:
a. Mahasiswi
dipanggil = الطَّالِيَةَ
تُدْعَى / دُعِيَتْ
b. Ibuku
dimuliakan = اُمِّىْ تُكْرَمُ / كْرِمَتْ
2. Bila
naibul fa’il terdiri dari dlomir yang kembali kepada Mu’annats haqiqi atau
Mu’annats Majazi. Contoh :
a. Bila
anak yang dibunuh ditanyai = اِذَاالْمَوْؤْدَةُسِٔلَتْ .ا
b. Bila
bumi sudah diratakan = مُدَّتْ
اِذَااْلأَرْضُ .ب
c. Bila
suraga sudah didekatkan
= اُزْلِفَتْ
اِذَااْلجَنَّةُ .ج
3. Bila
na-ibul fa’ilnya terdiri dari dlomir yang kembali kepada jamak mu’annats atau
jamak taksir dari isim yang Mu’annats atau jamak taksir dari isim yang tidak
berakal. Dalam hal semacam ini, tidak boleh boleh dua cara menta’nitskan
fi’ilnya, yaitu dengan Ta’ Ta’nits atau dengan Nun Niswah ( nun tanda jamak
perempuan). Hanya saja bagi jamak Mu’annats lebih baik dijamakkan dengan Nun
Niswah begitu juga jamak taksir dari isim yang Mu’annats. Sedang bagi jamak
taksir dari isim Mudzakkar yang tidak berakal, lebih baik dita’nitskan Ta’
Ta’nits.
Contoh
:
a. Muslimat-muslimat
kumpulkan = جُمِعَتْ
اَلْمُسْلِمَاتُ .ا
b. Fathimah-fhathimah
kasihani = رُحِمَتْ اَلْفَوَاطِٔمُ
.ب
c. Bila
gunung-gunung sudah dihancurkan = سُيِرَتْ
اِذَااُلجِبَالُ .ج
d. Bila
Ruh-ruh disatukan lagi dengan jasad = جَتْ
زُوِ اِذَاالنُّفُوْسُ .د
e. Bila
laut-laut diluapkan
= لْبِجَارُسُجِّرَتْ
اِذَاا .ء
Boleh
dita’nitskan fi’il atau tidak, pada tempat-tempat yang boleh dua cara pada
fa’ilnya di atas.
- Macam-macam
Na-ibul Fa’il
Macam
Na’ibul fa’il, sama dengan macam-macam Fa’il. Jadi Na’ibul fa’il, ada tiga
macam juga, yaitu :
- Isim
zohir
- Isim dlomir
- Mashdar
Mu’awwal
Contoh
:
NAIBUL
FAIL DARI ISIM ZOHIR
1.
Air sudah di minum = اْلمَاءُ
شُرٍبَ .ا
2.
Dua pensil diambil = اُخِذَالْقَلَمَانِ .٢
3.
Guru-guru dikumpulkan = اْلمُدِرِّسَاتُ
جُمِعَتِ .٣
4.
Mahasiswi-mahasiswi sedang dinasihati = لطَّالِبَاتُا تُوْعَظُ .٤
5.
Dua murid (pr.) dikeluarkan = التِّلْمِيْذَتَانِ اُخْرِجَتْ
.٥
NAIBUL FAIL DARI ISIM DLOMIR, MUFRAD
GHA’IB DAN GAIBAH
- Orang
mufrad Ghaib dan Ghaibah (Lk & pr), contoh :
1.
Ikan dimakan = يُؤْكَلُ
السَّمَكُ .١
2.
Susu sedang diminum = يُشْرَبُ
اَللَّبَنُ .٢
3.
Kopi sudah diminum = اَلْقَهْوَةُشُرِبَتْ .٣
4.
Bantal dijemur = اَلْوَسَادَةُتُجَفَّفُ .٤
NAIBUL FAIL TERDIRI DARI DLOMIR GHAIB,
DUA DAN JAMAK
Yaitu orang ketiga dua dan jamak
laki-laki dan perempuan. Contoh :
Artinya !
Majhul ! Ma’lum
1. Mereka
berdua ditolong =
نُصِرَا نَصَرْنَاهُمَا .١
2. Mereka
berdua (pr.) ditolong = نُصِرَتَا نَصَرْتُهُمَا .٢
3. Mereka
ditolong = نُصِرُوْا هُمْ نَصَرْنَا .٣
4. Mereka
(pr.) ditolong = نُصِرْنَ نَاهُنَّ نَصَرْنَ .٤
5. Mereka
berdua dipanggil = يُدْعَيَانِ نَدْعُوْهُمَا .٥
6. Mereka
berdua dipanggil = يُدْعَيَانِ نَدْعُوْهُمَا .٦
7. Mereka
dipanggil = يُدْعَوْنَ اَلْأَسْتَاذُيَدْعُوْهُمْ .٧
8. Mereka
(pr) dipanggil = يُدْعَيْنَ اَلْٔأُسْتَاذُيَدْعُوْهُنَّ .٨
Contoh-contoh
(1 s/d 4) pemakaian fiil madli majhul
dengan Naibul fa’il terdiri dari dlomir. Contoh-contoh ( 5 & 8), pemakaian
fi’il Mudhore’ majhul dengan Naibul Fail terdiri dari dlomir juga.
NAIBUL FAIL TERDIRI DARI DLOMIR
MUKHATHOB
Yaitu
yang terdiri dari orang kedua laki-laki dan perempuan. Contoh :
1. Engkau
(lk) ditunggu = اُنْتُظِرْتَ اَنْتَظِرُكَ .١
2. Kamu
berdua ditunggu = اُنْتُظِرْتُمَا اِنْتَظًرْتُكُمَا .٢
3. Kamu
semua ditunggu = اُنْتُظِرْتُمْ اِنْتَظًرَكُمْ
اَلرَّجُلُ .٣
4. Engkau
sedang ditunggu = تُنْتَظًرُ يَنْتَظِرُكَ
اَبُوْكَ .٤
5. Kamu
berdua ditunggu = تُنْتَظًرَانِ اَنَااَنْتَظِرُكُمَا .٥
6. Kamu
semua ditunggu = تُنْتَظًرُوْنَ نَنْتَظِرُكُمْ
نَحْنُ .٦
7. Engkau
(pr) dipinang = تُخْطَبِيْنَ اَنَااَخْطُبُكِ .٧
- Kamu
berdua dipinang = تُخْطَبَانِ نَخْطُبُكُمَا
نَحْنُ .٨
- Kamu
semua dipinang = تُخْطَبْنَ نَخْطُبُكُنَّ .٩
- Engkau
sedang diajar = تُعَلَّمُ اَلْاُسْتَاذُيُعَلِّمُكَ .١٠
- Engkau
berdua diajar = تُعَلَّمَانِ اَلْاُسْتَاذُيُعَلِمُكُمَا .١١
- Kamu
semua dihajar = تُعَلَّمُوْنَ اَلْاُسْتَاذُيُعَلِمُكُمْ .١٢
Contoh-contoh
dari nomor ( 1 s/d ) untuk laki-laki. Sedang contoh-contoh dari nomor 7 s/d 12,
adalah untuk perempuan.
NAIBUL FAIL TERDIRI DARI DLOMIR
MUTAKALLIM
Yang
terdiri dari orang pertama tunggal dan jamak. Contoh :
- Saya
sudah dimarahi/dibenci = اُبْغَضْتُ اَبْغَظًنِىْ
اَبِى .١
- Saya
akan dimarahi/dibenci = اُبْغَضُ يُبْغِضُنِىْ اَبِى .٢
- Kami
sudah dimarahi/dibenci = اُغْضَبْنَا اَغْضَبَنَا
اَلْوَالِدَانِ.٣
- Kami
akan dimarahi/dibenci = نُغْضَبُ وَالِدَانَايُبْغِضُنَا .٤
NAIBUL FAIL TERDIRI DARI MASHDAR
MU’AWWAL
- Diharapkan
engkau hadir = حَاضِرُ اَنَّكَ
يُرْجَى .١
Taqdirnya
: diharapkan kehadiranmu = حُضُوْرُكَ
يُرْجَى
- Dikhawatirkan
engkau pergi =
تَذْهَبَ
اَنْ يُخْشَى .٢
Taqdirnya
: dikhawatirkan kepergianmu = ذِهَابُكَ يُخْشَ
·
Isim dhohir di bagi menjadi tiga yaitu:
1.
Isim Mufrod
2.
Isim Tasniyah
3.
Isim Jamak
·
Sebab – sebab membuang Fa’il
Di
dalam pembuatan naibul fail itu karena dibuangnya fa’il dan diantara sebab –
sebab membuang, fa’il adalah:
1. للعلم
به(Karena sudah di
ketahui)
Contoh: وحلق الانسان ضعيفا
2. للجهل به(Karena tidak di ketahui, jadi tidak bisa
menyebutkan)
Contoh: سرق الامتعة البارخة
3. للخوف عليه(Karena mengawatirkan fa’il)
Contoh: ضرب ابن احيك مساء
4. للحوف منه(Karena takut padanya)
Contoh: اختطفت طائرة جارودا المتو جهة الهند
5
. للرغبة
فى اخفاءه للابهام(Karena ingin
atau bermaksud untuk menyelamatkan dan merahasiakan).
Contoh: ركب الحصن امام ساحة المدرسة
6.
لتعظيمه
/ لبشر فه(Karena kemuliaannya
atau karena mengagungkannya)
Contoh: علملت الفاحشة فى اليلة المنصرمة
7. لتحقيره(Karena meremehkannya)
Contoh: ئظم المعهد تنظيما رصينا معجبا
8. لعدم تعلق الفئدة بذكره(Karena tidak ada gunanya untuk disebutkan)
Contoh وادا حبيتم
بتحية فحية فحيوا باحسن منها اوردواها :
·
Cara membuat fi’il mabni majhul
Untuk
membuat fi’il mabni majhul untuk fi’il madli yaitu huruf pertama harus di baca
dhomah dan huruf sebelum ahir dibaca kasroh dan untuk fi’il mudhori’ maka huruf
prtama dibaca dhomah dan huruf sebelum akhir dibaca fathah.
Contoh:
Fi’il
madly قرئ القران :
Fi’il
Mudhori : ينصر
الجيش
Dan
dalam pembuatan fi’il mabni majhul jika fi’il madli yang disandarkan pada
naibul fail itu huruf pertama berupa ta’ muthowa’ah (تاءالطاوعة)maka huruf
yang kedua juga dibaca dlomah seperti huruf pertama contoh: تعلمت
Dan
jika fi’il madli yang dimabnikan majhul itu, jika huruf pertama berupa hamzah
wasul, maka huruf yang ketiga juga dibaca dlomah seperti huruf pertama.
Contoh: استحرج
Apabila
fi’il madli yang dimabnikan majhul itu terdiri dari fi’il sulasi mu’tal ain (fi’il
yang a’in fi’ilnya berupa huruf ilat) maka fa’ilnya bisa dibaca tiga macam
bacaan yaitu:
- Di
baca kasroh dan mengganti huruf ilat (alif) dengan ya’
Contoh: بيعتasalnya باع
- di
baca dlomah dan mengganti alif dengan wawu
Contoh: بوعasalnya باع
- di baca isymam (membaca)
Fi’il
madli tsulasi binak mudloaf (yang ‘ain fi’ilnya dan lam fi’ilnya hurufnya sama)
yang mabnikan majhul itu fa’ilnya juga bisa dibaca tiga macam yaitu dlomah,
isymam, kasroh.
Contoh: مدالحبل، مدالحبل، مدالحبل
Fi’il
madhi tsulasi mazid khumasi yang ikut wazan افتعلdan انفعلyang terdiri dari
fi’il mu’tal ‘ain (معتل العين)itu jika di mabnikan majhul tiga macam:
dlomah, kasorh dan isymam seperti fa’ fiilnya fiil tsulasi mu’tal ‘ain yang
dimabnikan majhul.
Contoh:
a. yang
ikut wazan احتور : افتعل
b. yang
ikut wazan انقيد: انفعل
·
Lafadz – lafadz yang bisa dijadikan
naibul fa’il
Lafaldz
– lafadz yang bisa dijadikan naibul fail itu ada empat yaitu:
- Maf’ul
bih contoh:
قرئ القرانAsalnya قرأ محمد القران
- Masdar
contoh:
فرح زيد فرحا شديدAsalnya فرح فرح شديد
- Jer majrur contoh:
جلس على الكرسىAsalnya جلس حالد على الكرسى
- Dhorof contoh:
صيم رمضانAsalnya صام المسلمون رمضان
Dhorof,
masdar, jer majrur itu tidak bisa dijadikan naibul fa’il (sekalipun sudah
memenuhi syarat) jika dalam susunan atau kalimat itu ada maf’ul bih (jadi yang
berhak atau harus dijadikan naibul fa’il adalah maful bih) akan tetapi kadang –
kadang ada juga yang dijadikan naibul fail (padahal dalam kalimat tersebut
terdapat maf’ul bih).
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Naibul
Fa’il adalah Isim yg dirofa’kan baik secara lafzhan atau mahallan, menggantikan dan menempati tempatnya
fa’il yang dibuang dan fi’ilnya dibina’ Majhul. Baik isim yang menggantikan itu
asalnya berupa Maf’ul bih atau serupanya semisal Zhorof, Masdar, Jar-majru dll.
Naibul
Fail terbagi menjadi 3 macam yaitu Isim zohir, Isim dlomir, Mashdar Mu’awwal , Isim dlomir itu sendiri di bagi dua
yaitu dlomir mutasil dan munfasil dan isim dhohir itu dibagi tiga yaitu terdiri
dari isim mufrod, isim jamak, dan isim tasniyah dan sebab – sebab membuang fail
adalah:
1. للعلم
به
2. للجهل به
3. للخوف عليه
4. للحوف منه
5. للرغبة فى
اخفاءه للابهام
6. لتعظيمه /
لبشر فه
7. لتحقيره
8. لعدم تعلق
الفئدة بذكره
DAFTAR
PUSTAKA
·
Sholeh, M. Mafthuhin,
1986. Terjemah Alfiyah Ibnu Malik juz 2. Surabaya: Putra Jaya
·
Sholeh, M. Mafthuhin,
1986. Terjemah Alfiyah Ibnu Malik juz 2 soal jawab. Surabaya: Putra Jaya
·
Kasurif Leo, 2008, Nahwu ibnu kasurif.
·
Drs, M. Abubakar. 1982. Tata Bahasa
Arab. Surabaya.